Topeng dan Kematian
Sudah kuduga aku harus menulis ini, cepat atau lambat...
Disamping mungkin karena emosi yang mendukung untuk menulis ini(marah, sedih, dan akhirnya mungkin senang)
Akhir-akhir ini aku selalu lupa kalau dulu aku pernah merasa bahwa aku ini adalah manusia yang paling dibenci di lingkungan di manapun aku berada, sekolah, rumah, kampus, kelas, di antara teman-teman, di dalam organisasi. Dulu aku selalu merasa bahwa semua orang yang melihatku, di dalam pikirannya mereka sedang mengucapkan kata-kata kebenciannya pada diriku, sedang berpikir bahwa sebaiknya aku tidak ada di depan mereka pada waktu itu. Mungkin seseorang akan mengatakan, "itu kan hanya perasaanmu". Yah, mungkin memang itu perasaan saja. Namun aku terlalu banyak nonton anime(yang punya sedikit banyak unsur psikologinya), terlalu banyak memperhatikan hubungan yang diciptakan manusia begitu pula terlalu banyak memperhatikan hubungan yang diputus manusia.
Di dalam pikiranku tertanam bahwa setiap manusia menggunakan topeng, pada saat berhadapan dengan orang lain bahkan pada keluarga. Topeng yang kumaksud adalah wajah dimana pikiran, ucapan dan perbuatan dimanipulasi agar lawan bicara atau orang disekelilingnya merasa bahwa dia yang memakai topeng itu bisa diterima. Awalnya aku berpikir bahwa memakai topeng itu sesuatu yang buruk, karena hal itu seperti melakukan sesuatu kebohongan karena kita tidak menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya. Akuilah, bahkan menurut beberapa penelitian orang mengatakan bahwa manusia berbohong untuk diterima di masyarakatnya. Contohnya saja seperti yang dipaparkan di sini. Pada artikel itu dikatakan bahwa seseorang mengatakan suatu kebohongan agar ia bisa dipedulikan oleh orang lain. Namun aku mulai menerima bahwa untuk beberapa kasus, seseorang kadang perlu berbohong agar ia dapat diterima di lingkungannya. Namun ia harus menerima resikonya karena berbohong.
Aku mungkin bukan orang yang nakal pada saat smp atau sma(yang beberapa atau mungkin semua orang anggap kenakalan itu menjadi kenangan yang manis), karena aku merasa kenakalan semacam itu(misal, mengerjai guru) adalah hal yang tidak begitu baik untuk dilakukan. Tapi karena hal itulah(karena menganggap hal itu bukan kenangan manis) maka aku tidak banyak mempunyai teman. Jelas, karena hampir semua orang yang seharusnya bisa menjadi temanku melakukan kenakalan dan menganggapnya kenangan manis sedangkan aku tidak bisa membaur dengan mereka karena aku tidak menganggapnya begitu. Repot. Ketika kita merasa diri kita benar menurut etika(tidak nakal), kita justru tidak mendapatkan teman(aku merasa selalu kesepian karena tidak pernah berkumpul-kumpul seperti layaknya orang lain). Orang-orang, mungkin ada di antara kalian, dengan senangnya, dengan tertawa-tawa menceritakan bahwa dulu pernah melakukan kenakalan dan sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan. Dan aku yakin sekali, dalam suatu acara kumpul-kumpul bersama teman, tidak 100% cerita yang dibagi benar, pasti ada unsur bohongnya. Karena kalau tidak bohong, maka si pendengar tidak akan tertarik. Padahal aku belajar bahwa "orang yang selalu berbuat baik, tidak akan ditinggalkan teman-temannya". Yah, aku memang bukan orang yang baik sekali, namun minimal aku tidak melakukan kenakalan-kenakalan yang biasanya dilakukan anak-anak smp atau sma.
Pada akhirnya pun aku memakai topeng, topeng ini menutup diriku dari dunia luar. Kebohongan topeng itu menutupi semua perasaanku(benci, marah, sedih, senang). Dan itu membuatku semakin dijauhi. Memang ada beberapa teman yang mungkin bisa dibilang masih cukup akrab. Namun jika kondisi berubah, aku yakin aku pasti akan ditinggalkan. Alasan? Sederhana saja. Karena aku tidak asyik diajak berteman. Wajahku sendiri tidak menunjukkan orang yang ingin berteman. Lalu kau mungkin akan bertanya, mengapa aku bisa berkesimpulan seperti itu? Tentu saja aku bisa, aku punya logika yang kupakai. Aku melihat cukup banyak hubungan antar orang yang seumur atau dibawahku, hal itu sudah bisa memberikanku kesimpulan.
Bukan keinginanku untuk dibenci sih, namun memang topengku sudah terbentuk seperti itu. Pengkhianatan, penghinaan, penipuan, kekecewaan. Semua itu aku alami dan itu membentuk topengku yang sekarang ini. Walaupun aku juga mengalami keadaan bahagia, namun manusia pada dasarnya lebih mudah mengingat kejadian pahit dibandingkan kejadian manis. Aku rasanya ingin sekali marah sekaligus menangis saat ini. Kenapa? Marah karena mengapa manusia tidak bisa saling mengerti, mengapa manusia selalu berusaha untuk menang dengan berdasarkan jumlah bukan kebenaran(contoh:jika 10 orang mengatakan benda bulat itu adalah bola dan hanya 1 orang yang mengatakan benda bulat itu adalah kotak, maka benda itu akan selalu disebut bola). Sedih karena mengapa aku mau membiarkan diriku marah, sedih karena mengetahui aku masih bisa marah membuatku merasa aku tidak pantas untuk memiliki seseorang untuk kulindungi.
Terlepas dari kebencian, marah, kesedihan dan semua perasaan yang tak bisa kutuliskan itu. Aku menyadari bahwa tiap saat aku bisa saja mati. Aku selalu membayangkan, pada saat aku akan mati, apa yang akan kulakukan. Aku sudah mempunyai jawaban sementara sih, jawaban itu adalah ketika aku akan mati, aku akan tersenyum dan tertawa mengenang perbuatan-perbuatan yang telah kulakukan, mengenang kebodohan yang telah kulakukan, mengenang mereka yang menurutku masih lebih rendah dariku(karena sifatku yang mudah sombong), dan kalau mungkin mengenang dia yang selalu ingin kulindungi. Sebelum kuliah dan masuk organisasi, tidak pernah ada yang bilang kalau aku ini tidak pernah tersenyum. Aku baru menyadarinya setelah teman-teman organisasiku bertanya kenapa aku tidak pernah tersenyum. Aku cuma bisa diam dan tersenyum(walaupun di mukaku mereka tidak melihat senyuman).
Ini bukan surat wasiat, tentu saja bukan. Karena aku masih belum mau pindah kehidupan. Aku masih mau mencari dia yang indah yang ingin kulindungi. Tapi seandainya saja terjadi, aku hanya ingin tersenyum dan tertawa bila saat itu tiba...Haha
Disamping mungkin karena emosi yang mendukung untuk menulis ini(marah, sedih, dan akhirnya mungkin senang)
Akhir-akhir ini aku selalu lupa kalau dulu aku pernah merasa bahwa aku ini adalah manusia yang paling dibenci di lingkungan di manapun aku berada, sekolah, rumah, kampus, kelas, di antara teman-teman, di dalam organisasi. Dulu aku selalu merasa bahwa semua orang yang melihatku, di dalam pikirannya mereka sedang mengucapkan kata-kata kebenciannya pada diriku, sedang berpikir bahwa sebaiknya aku tidak ada di depan mereka pada waktu itu. Mungkin seseorang akan mengatakan, "itu kan hanya perasaanmu". Yah, mungkin memang itu perasaan saja. Namun aku terlalu banyak nonton anime(yang punya sedikit banyak unsur psikologinya), terlalu banyak memperhatikan hubungan yang diciptakan manusia begitu pula terlalu banyak memperhatikan hubungan yang diputus manusia.
Di dalam pikiranku tertanam bahwa setiap manusia menggunakan topeng, pada saat berhadapan dengan orang lain bahkan pada keluarga. Topeng yang kumaksud adalah wajah dimana pikiran, ucapan dan perbuatan dimanipulasi agar lawan bicara atau orang disekelilingnya merasa bahwa dia yang memakai topeng itu bisa diterima. Awalnya aku berpikir bahwa memakai topeng itu sesuatu yang buruk, karena hal itu seperti melakukan sesuatu kebohongan karena kita tidak menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya. Akuilah, bahkan menurut beberapa penelitian orang mengatakan bahwa manusia berbohong untuk diterima di masyarakatnya. Contohnya saja seperti yang dipaparkan di sini. Pada artikel itu dikatakan bahwa seseorang mengatakan suatu kebohongan agar ia bisa dipedulikan oleh orang lain. Namun aku mulai menerima bahwa untuk beberapa kasus, seseorang kadang perlu berbohong agar ia dapat diterima di lingkungannya. Namun ia harus menerima resikonya karena berbohong.
Aku mungkin bukan orang yang nakal pada saat smp atau sma(yang beberapa atau mungkin semua orang anggap kenakalan itu menjadi kenangan yang manis), karena aku merasa kenakalan semacam itu(misal, mengerjai guru) adalah hal yang tidak begitu baik untuk dilakukan. Tapi karena hal itulah(karena menganggap hal itu bukan kenangan manis) maka aku tidak banyak mempunyai teman. Jelas, karena hampir semua orang yang seharusnya bisa menjadi temanku melakukan kenakalan dan menganggapnya kenangan manis sedangkan aku tidak bisa membaur dengan mereka karena aku tidak menganggapnya begitu. Repot. Ketika kita merasa diri kita benar menurut etika(tidak nakal), kita justru tidak mendapatkan teman(aku merasa selalu kesepian karena tidak pernah berkumpul-kumpul seperti layaknya orang lain). Orang-orang, mungkin ada di antara kalian, dengan senangnya, dengan tertawa-tawa menceritakan bahwa dulu pernah melakukan kenakalan dan sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan. Dan aku yakin sekali, dalam suatu acara kumpul-kumpul bersama teman, tidak 100% cerita yang dibagi benar, pasti ada unsur bohongnya. Karena kalau tidak bohong, maka si pendengar tidak akan tertarik. Padahal aku belajar bahwa "orang yang selalu berbuat baik, tidak akan ditinggalkan teman-temannya". Yah, aku memang bukan orang yang baik sekali, namun minimal aku tidak melakukan kenakalan-kenakalan yang biasanya dilakukan anak-anak smp atau sma.
Pada akhirnya pun aku memakai topeng, topeng ini menutup diriku dari dunia luar. Kebohongan topeng itu menutupi semua perasaanku(benci, marah, sedih, senang). Dan itu membuatku semakin dijauhi. Memang ada beberapa teman yang mungkin bisa dibilang masih cukup akrab. Namun jika kondisi berubah, aku yakin aku pasti akan ditinggalkan. Alasan? Sederhana saja. Karena aku tidak asyik diajak berteman. Wajahku sendiri tidak menunjukkan orang yang ingin berteman. Lalu kau mungkin akan bertanya, mengapa aku bisa berkesimpulan seperti itu? Tentu saja aku bisa, aku punya logika yang kupakai. Aku melihat cukup banyak hubungan antar orang yang seumur atau dibawahku, hal itu sudah bisa memberikanku kesimpulan.
Bukan keinginanku untuk dibenci sih, namun memang topengku sudah terbentuk seperti itu. Pengkhianatan, penghinaan, penipuan, kekecewaan. Semua itu aku alami dan itu membentuk topengku yang sekarang ini. Walaupun aku juga mengalami keadaan bahagia, namun manusia pada dasarnya lebih mudah mengingat kejadian pahit dibandingkan kejadian manis. Aku rasanya ingin sekali marah sekaligus menangis saat ini. Kenapa? Marah karena mengapa manusia tidak bisa saling mengerti, mengapa manusia selalu berusaha untuk menang dengan berdasarkan jumlah bukan kebenaran(contoh:jika 10 orang mengatakan benda bulat itu adalah bola dan hanya 1 orang yang mengatakan benda bulat itu adalah kotak, maka benda itu akan selalu disebut bola). Sedih karena mengapa aku mau membiarkan diriku marah, sedih karena mengetahui aku masih bisa marah membuatku merasa aku tidak pantas untuk memiliki seseorang untuk kulindungi.
Terlepas dari kebencian, marah, kesedihan dan semua perasaan yang tak bisa kutuliskan itu. Aku menyadari bahwa tiap saat aku bisa saja mati. Aku selalu membayangkan, pada saat aku akan mati, apa yang akan kulakukan. Aku sudah mempunyai jawaban sementara sih, jawaban itu adalah ketika aku akan mati, aku akan tersenyum dan tertawa mengenang perbuatan-perbuatan yang telah kulakukan, mengenang kebodohan yang telah kulakukan, mengenang mereka yang menurutku masih lebih rendah dariku(karena sifatku yang mudah sombong), dan kalau mungkin mengenang dia yang selalu ingin kulindungi. Sebelum kuliah dan masuk organisasi, tidak pernah ada yang bilang kalau aku ini tidak pernah tersenyum. Aku baru menyadarinya setelah teman-teman organisasiku bertanya kenapa aku tidak pernah tersenyum. Aku cuma bisa diam dan tersenyum(walaupun di mukaku mereka tidak melihat senyuman).
Ini bukan surat wasiat, tentu saja bukan. Karena aku masih belum mau pindah kehidupan. Aku masih mau mencari dia yang indah yang ingin kulindungi. Tapi seandainya saja terjadi, aku hanya ingin tersenyum dan tertawa bila saat itu tiba...Haha
Label: cerita
